Senin, 03 September 2012

KUANTITAS INPUT SISWA SMK SWASTA TH 2012


DAMPAK KUOTA PENERIMAAN SISWA BARU DI SMK NEGERI TERHADAP KUANTITAS INPUT SISWA PADA SMK SWASTA
DI KOTA BANDUNG

1.1      Latar Belakang masalah
Tahun ini, rata-rata tingkat kelulusan di berbagai jenjang  pendidikan mencapai angka di atas 99%. Siapa pun yang bersentuhan dengan dunia pendidikan, kita pasti tersenyum lebar. Mulai dari siswa, orangtua siswa, guru, kepala sekolah, bupati hingga Mendikbud tentu sangat menikmati kesuksesan UN tersebut. Namun, ada yang berbeda setelah tahap ‘bahagia’. Ada yang bisa menikmatinya dalam waktu relatif lama, namun ada kelompok yang harus memasuki ‘masa stress’ setelah ‘masa bahagia’ tersebut.
Kelompok yang harus mengalami ‘masa stress’ setidaknya antara lain orangtua siswa, lulusan, dan sekolah-sekolah swasta. Para lulusan dan orangtua mengalami stress tentang apa yang harus dilakukan setelah lulus? Bagi yang ingin melanjutkan, mereka stress apakah bisa melanjutkan di lembaga pendidikan yang diinginkan. Setelah itu, apakah biaya pendidikan yang diinginkan itu terjangkau dengan cost mereka?
Bagi lembaga pendidikan, setelah meluluskan siswa-siswanya, apakah di tahun ini mampu mendapatkan siswa baru minimal sama jumlahnya dengan jumlah siswa yang lulus? Bagi sekolah-sekolah negeri atau sekolah swasta yang telah memiliki brand kuat di masyarakat, pertanyaan seperti itu tak pernah menjadi persoalan. Tapi tidak demikian halnya dengan sekolah-sekolah swasta yang  ‘kurang dianggap’ oleh masyarakat. Setiap tahun ajaran baru selalu diliputi kekhawatiran, “Apakah tahun ini akan mendapatkan murid baru yang cukup? Kecemasan seperti itu sangat wajar mengingat setiap tahun selalu ada sekolah-sekolah swasta yang harus tutup karena tidak mendapatkan murid. Mereka kalah dalam persaingan merebut murid-murid baru melawan sekolah-sekolah negeri).
Begitu besarnya peranan lembaga-lembaga pendidikan swasta bagi pendidikan nasional kita, terutama di awal-awal kemerdekaan, keadaan lembaga pendidikan seperti digambarkan di atas tentu sangat memprihatinkan kita semua. Ketika negara belum mampu membangun lembaga-lembaga pendidikan secara memadai, pendidikan swasta telah berperan besar bagi pendidikan bangsa. Bahkan mereka telah eksis sebelum republik ini merdeka. Sebut saja Taman Siswa, lembaga pendidikan Muhammadiyah, Ma’arif, Katolik maupun Kristen. Namun, begitu negara banyak uang sehingga mampu membangun banyak sekolah negeri, nasib pendidikan swasta diterlantarkan, bahkan terkesan sengaja ‘dibunuh’.)
Mengapa nasib buruk seperti itu mesti dialami lembaga-lembaga pendidikan swasta?


1.2  Faktor – faktor penyebab menurunnya jumlah siswa baru :
  1. Sekolah-sekolah negeri dalam menambah rombel murid baru. Penambahan rombel ini bisa melalui pembukaan sekolah baru, penambahan kelas baru, atau dengan jalan membuka shift baru. Bahkan, tak jarang cara-cara kurang terpiji dilakukan. Misalnya dengan menugaskan murid-murid kelas dua melakukan prakerin ( praktek kerja industri ) selama setahun. Dengan memberlakuakn prakerin setahun, maka ada cukup banyak kelas yang bisa digunakan untuk menambah jumlah murid. (
    Nasib sekolah-sekolah swasta yang kian hari kian terpuruk ini tampaknya tidak ada yang peduli. Masyarakat umum tentu tidak punya kepentingan apa-apa atas jatuh bangunnya pendidikan swasta. Bagi mereka, anak-anak mereka bisa sekolah di tempat yang menurut persepsi mereka baik, dan itu adalah sekolah negeri. Kalau pilihan mereka menyekolahkan ke sekolah negeri mengakibatkan lembaga-lembaga pendidikan swasta berguguran, who care ?
  2. Peningkatan kualitas pelayanan, pemenuhan konsumen needs serta competitif cost yang harus perlu ditingkatkan.
Biasanya, ketika kita dirugikan oleh kebijakan-kebijakan eksekutif, salah satu tindakan kita adalah mengeluh ke lembaga legislatif. Karena, menururt keyakinan kita, para anggota dewan yang terhormat itu adalah representatif dari kita. Namun, berkaitan dengan masalah kebangkrutan sekolah swasta ini, dewan tampaknya tidak mau peduli juga. Meskipun, mereka juga tahu bahwa sekolah-sekolah swasta dulu sangat besar jasanya dalam mencerdaskan bangsa, namun mungkin dipandang tidak menguntungkan bagi mereka untuk ikut membela sekolah swasta. Justru akan lebih menguntungkan jika mereka bisa memperjuangkan masyarakat untuk ditampung di sekolah-sekolah negeri.)
Kini ketika pemerintah telah mampu memberikan segala fasilitas sekolah-sekolah negeri, sekolah swasta menjadi tersisihkan. Sekolah negeri selalu menjadi pilihan karena memang dana pemerintah telah mampu meningkatkan kualitas, sarana dan prasarana pendidikan. Sementara sekolah swasta menjadi pilihan kedua atau sekolah cadangan ketika kesempatan sekolah di negeri benar-benar telah pupus.
Pemerintah sendiri nampak seperti menganaktirikan sekolah swasta. Kalau pun ada bantuan dari pemerintah untuk sekolah swasta , itu pun sifatnya sekadarnya. Akibatnya, sekolah swasta harus berusaha sendiri untuk mendapatkan biaya operasional sekolah dan menggaji para guru. Dan sumber dana bagi sekolah swasta adalah sumbangan pendidikan serta SPP dari murid. Ketika sekolah swasta tahun demi tahun semakin kehilangan murid karena kehilangan peminat, maka  kemungkinan sekolah tutup juga tinggal menunggu waktu saja.

Berikut contoh tabel jumlah pemerolehan siswa baru SMK di Kota Bandung (Sampel sekolah negeri & swasta secara random)
TAHUN AJARAN
SMKN 1 Bdg
SMKN 3 Bdg
SMKN 7 Bdg
SMK KP 2 Bdg
SMK Muhamadiyah Bdg
SMK GANTRA Bdg
2011/2012
540 siswa
800 siswa
592 siswa
43 siswa
257 siswa
66 siswa
Jumlah Rombel
15 rombel
22 rombel
16 rombel
1 rombel
7 rombel
2 rombel
2012/2013
540 siswa
760 siswa
572 siswa
22 siswa
187 siswa
35 siswa
Jumlah Rombel
15 rombel
21 rombel
15 rombel
1 rombel
5 rombel
1 rombel
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa perbandingan jumlah penerimaan siswa baru antara SMK  negeri dengan SMK swasta, betul – betul kontras sekali. Melihat kenyataan itu, diharapkan pemerintah, khususnya pemerintah daerah turun tangan dalam menyikapi permasalahan tersebut dan memberikan solusi terbaik agar pemenuhan kuota siswa siswa negeri dan swasta  dapat berimbang, karena apabila hal tersebut dibiarkan dan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, maka dikhawatirkan, akan semakin banyak lembaga-lembaga/sekolah – sekolah swasta yang gulung tikar atau dipaksakan beroperasional, dikarenakan memiliki tanggung jawab atau beban moral terhadap siswa – siswa kelas XI maupun XII, yang akibatnya akan berdampak pada semua sektor, diantaranya :
1.     Tujuan/program sekolah tidak akan tercapai secara maksimal.
2.     Efisiensi/perampingan tenaga pengajar, karena jumlah jam mengajar mereka yang otomatis berkurang, karena jumlah rombel yang sedikit/guru tidak mengajar sama sekali
3.     Biaya operasional sekolah yang semakin tinggi, karena disesuaikan dengan kondisi ekonomi saat ini
4.     Kondisi sarana dan prasarana sekolah menjadi tidak efektif
Pada akhirnya, hal tersebut tidak sejalan dengan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional, diantaranya:
1.2.1 Visi Pendidikan Nasional
Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya system pendidikan sebaga pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
1.2.2 Misi Pendidikan Nasional
Dengan visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai berikut:
1. mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
2. membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
3. meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
4. meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan
5. memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.
1.2.3 Tujuan Pendidikan Nasional
Pendidikan merupakan pilar tegaknya bangsa; Melalui pendidikanlah bangsa akan tegak mampu menjaga martabat. Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
1.3 . Langkah – langkah Strategis/Pemecahan Masalah :
1.     Sistem/kebijakan Ujian Nasional SMP yang perlu diubah
2.     Penerapan kebijakan pemerintah yang berimbang, yang dikondisikan pada kebutuhan sekolah masing - masing
3.     Menginventarisir jumlah siswa SMP yang ada di kota/daerah secara komprehensif  
4.     Pembagian kuota antara negeri dan swasta harus berimbang
5.     Memberikan pelayanan prima yang baik
6.     Pemenuhan kebutuhan  secara komprehensif
7.     Mengubah bentuk strategi/strategi marketing yang berdasar pada konsumen needs
8.     Penetapan biaya yang bersifat kompetitif
9.     Memiliki program unggulan yang dapat dijadikan sebagai nilai jual

Tidak ada komentar: